MASSA.ID, Purworejo — Penggunaan gadget yang semakin melekat dalam kehidupan remaja membuat kemampuan mengatur waktu layar menjadi hal penting yang perlu diperhatikan.
Untuk mencegah dampak negatif akibat penggunaan perangkat digital berlebihan, Dinas Komunikasi, Informatika, Statistik, dan Persandian (Dinkominfostasandi) Kabupaten Purworejo memberikan edukasi mengenai kebiasaan digital sehat kepada para pelajar.
Edukasi tersebut disampaikan dalam kegiatan Masa Pengenalan Lingkungan Sekolah (MPLS) peserta didik baru Tahun Ajaran 2026/2027 di SMA Negeri 6 Purworejo.
Dalam kegiatan itu, Penelaah Teknis Kebijakan Dinkominfostasandi Purworejo, Herlambang Kristiadji, S.Kom., mengajak siswa memahami pentingnya pembatasan penggunaan gadget melalui materi bertajuk “Pembatasan Penggunaan Gadget, Jadilah Pelajar Smart!”.
Penggunaan Gadget Berlebihan Jadi Perhatian
Dalam pemaparannya, Herlambang menjelaskan bahwa perkembangan teknologi digital memang memberikan banyak manfaat bagi pelajar, mulai dari mendukung pembelajaran hingga mempermudah akses informasi. Namun, penggunaan gadget tanpa pengelolaan yang baik dapat menimbulkan sejumlah risiko.
Ia menyebutkan bahwa remaja Indonesia rata-rata dapat menghabiskan waktu hingga 7,5 jam per hari di depan layar gadget. Durasi tersebut bahkan disebut telah melampaui waktu tidur ideal bagi sebagian remaja.
Penggunaan gadget secara tidak terkontrol juga berpotensi memengaruhi konsentrasi belajar, kesehatan mata, hingga pola tidur. Karena itu, pelajar perlu memiliki kemampuan mengatur waktu agar teknologi tetap memberikan dampak positif.
Formula 3S Untuk Mengelola Penggunaan Gadget
Sebagai langkah pencegahan, Dinkominfostasandi Purworejo memperkenalkan konsep 3S sebagai panduan sederhana dalam menggunakan gadget secara lebih sehat. Formula tersebut terdiri dari Screen Time, Screen Zone, dan Screen Break.
Screen Time: Batasi Waktu Menatap Layar
Prinsip pertama adalah Screen Time, yaitu mengatur durasi penggunaan gadget secara proporsional. Pelajar didorong untuk memprioritaskan aktivitas digital yang memiliki manfaat, seperti belajar, mencari informasi, atau kegiatan produktif lainnya.
Dengan adanya batas waktu yang jelas, penggunaan gadget tidak mengganggu aktivitas utama seperti belajar, beristirahat, maupun bersosialisasi secara langsung.
Screen Zone: Tentukan Area Bebas Gadget
Konsep kedua adalah Screen Zone, yakni membuat aturan mengenai tempat tertentu yang tidak digunakan untuk bermain gadget. Langkah ini bertujuan menciptakan ruang interaksi yang lebih sehat antara keluarga maupun lingkungan sekitar.
Area seperti ruang makan atau ruang keluarga dapat menjadi tempat yang mendorong komunikasi langsung tanpa gangguan perangkat digital.
Screen Break: Beri Waktu Istirahat Untuk Mata
Sementara itu, Screen Break mengajarkan pentingnya memberikan jeda saat menggunakan gadget. Salah satu metode yang dikenalkan adalah aturan 20-20-20, yaitu mengalihkan pandangan dari layar setiap 20 menit untuk melihat objek dengan jarak sekitar 20 kaki atau 6 meter selama 20 detik.
Kebiasaan sederhana tersebut diharapkan dapat membantu menjaga kesehatan mata, terutama bagi pelajar yang memiliki aktivitas tinggi menggunakan perangkat digital.
Bekali Pelajar Dengan Keamanan Digital
Selain membahas pengelolaan penggunaan gadget, kegiatan edukasi tersebut juga memberikan pemahaman mengenai keamanan siber. Para siswa mendapatkan materi tentang pencegahan perundungan digital, mengenali informasi palsu atau hoaks, serta pentingnya menjaga data pribadi di internet.
Melalui kegiatan ini, Dinkominfostasandi Purworejo berharap para pelajar tidak hanya mampu menggunakan teknologi, tetapi juga memahami tanggung jawab sebagai pengguna ruang digital.
Dengan membangun kebiasaan digital yang sehat sejak sekolah, generasi muda diharapkan dapat memanfaatkan gadget secara bijak, aman, dan tetap produktif di tengah perkembangan teknologi yang semakin cepat.***




