MASSA.ID, Jakarta – Seiring dimulainya musim laporan keuangan kuartal kedua Amerika Serikat, pasar modal global memasuki salah satu periode pengujian kinerja paling penting tahun ini. Chief Investment Officer Echelon Global Partners Inc, Herman Halim, dalam sebuah wawancara mengatakan bahwa setelah mencatatkan kenaikan berkelanjutan selama dua tahun terakhir, saham-saham teknologi Amerika Serikat kini memasuki fase “valuasi tinggi, ekspektasi tinggi, dan toleransi kesalahan yang rendah”. Kondisi tersebut diperkirakan dapat meningkatkan volatilitas pasar pada periode mendatang.
Berdasarkan evaluasi ulang terhadap strategi alokasi aset global, Echelon Global Partners Inc telah menaikkan rating pasar saham Indonesia serta mulai meningkatkan penelitian dan alokasi secara bertahap terhadap pasar Indonesia. Sektor sumber daya mineral ditetapkan sebagai salah satu fokus utama perusahaan ke depan.
Musim Laporan Keuangan Menjadi Ujian Sesungguhnya bagi Saham Amerika Serikat
Herman Halim mengatakan bahwa risiko terbesar yang dihadapi pasar saham Amerika Serikat saat ini bukanlah resesi ekonomi, melainkan ekspektasi pasar yang telah bergerak jauh lebih cepat dibandingkan pertumbuhan laba perusahaan.
Berdasarkan data terbaru FactSet, pasar memperkirakan laba perusahaan-perusahaan yang tergabung dalam indeks S&P 500 pada kuartal kedua 2026 akan tumbuh sekitar 23,6% secara tahunan. Jika terealisasi, hal ini akan menjadi kuartal kedua berturut-turut dengan pertumbuhan laba di atas 20%, sementara pertumbuhan laba sepanjang tahun juga diperkirakan tetap berada pada tingkat yang tinggi.
Pada saat yang sama, para analis terus menaikkan proyeksi laba perusahaan selama kuartal terakhir. Kondisi ini sangat berbeda dibandingkan lima tahun sebelumnya, ketika proyeksi laba umumnya diturunkan menjelang musim laporan keuangan.
Menurut Herman Halim, hal tersebut menunjukkan bahwa sebagian besar ekspektasi optimistis telah lebih dahulu tercermin dalam harga saham.
“Hal yang benar-benar menentukan arah pasar bukanlah apakah perusahaan mampu mencatatkan pertumbuhan, tetapi apakah pertumbuhan tersebut dapat terus melampaui ekspektasi pasar.”
Herman Halim menjelaskan bahwa ketika ekspektasi konsensus pasar semakin tinggi, perusahaan yang membukukan kinerja cukup baik sekalipun tetap dapat mengalami penurunan harga saham apabila hasilnya tidak memenuhi harapan investor.
“Risiko terbesar pasar bukanlah penurunan laba, melainkan ekspektasi yang terlalu tinggi.”
AI Tetap Menjadi Tren Jangka Panjang, tetapi Risiko Valuasi Terus Meningkat
Herman Halim menilai bahwa kecerdasan buatan tetap menjadi salah satu arah industri utama dalam sepuluh tahun mendatang. Pandangan tersebut tidak berubah.
Namun, perkembangan pasar modal tidak selalu bergerak sejalan dengan perkembangan industri.
Selama dua tahun terakhir, dana global terus mengalir ke sektor kecerdasan buatan, semikonduktor, serta perusahaan-perusahaan teknologi besar. Akibatnya, sebagian besar kenaikan pasar saham Amerika Serikat hanya didorong oleh sejumlah kecil perusahaan terkemuka, sementara tingkat konsentrasi pasar terus meningkat.
Pada saat yang sama, perusahaan-perusahaan terus memperbesar investasi infrastruktur AI, termasuk untuk GPU, pusat data, komputasi awan, serta pembangunan kapasitas komputasi.
“Pertanyaan yang mulai diperhatikan pasar saat ini adalah kapan belanja modal dalam jumlah besar tersebut dapat benar-benar dikonversi menjadi laba yang berkelanjutan.”
Menurutnya, apabila realisasi pertumbuhan laba perusahaan dalam beberapa kuartal mendatang lebih lambat daripada yang diharapkan pasar, sektor-sektor dengan valuasi tinggi berpotensi mengalami penilaian ulang.
“Kami tidak bersikap pesimistis terhadap sektor teknologi. Namun, kami menilai bahwa kinerja saham teknologi ke depan akan semakin bergantung pada pertumbuhan laba, bukan pada ekspansi valuasi yang terus berlanjut.”
Dana Global Mulai Mencari Pasar dengan Valuasi yang Lebih Menarik dan Memiliki Potensi Pertumbuhan
Herman Halim menilai bahwa seiring meningkatnya valuasi saham teknologi Amerika Serikat, dana global berpotensi kembali memperhatikan pasar negara berkembang yang memiliki valuasi lebih wajar dan arus kas yang stabil.
“Modal internasional selalu mencari keseimbangan antara risiko dan imbal hasil.”
Herman Halim menjelaskan bahwa ketika valuasi pasar negara maju terus meningkat, dana secara alami akan mencari pasar yang memiliki valuasi lebih rendah, tetapi masih menawarkan potensi pertumbuhan.
Dalam konteks tersebut, Echelon Global Partners Inc memutuskan untuk menaikkan rating pasar saham Indonesia.
Menurut Herman Halim, dibandingkan dengan pasar Amerika Serikat, valuasi pasar Indonesia saat ini relatif lebih rendah, sementara fundamental ekonominya tetap stabil.
Berdasarkan proyeksi terbaru Bank Indonesia, perekonomian Indonesia pada 2026 diperkirakan tetap tumbuh di kisaran 5%. Konsumsi masyarakat, investasi aset tetap, serta sektor manufaktur masih menjadi penopang penting pertumbuhan ekonomi.
“Keunggulan terbesar Indonesia saat ini bukan hanya pertumbuhan, tetapi juga valuasinya.”
Herman Halim mengatakan bahwa dalam periode realokasi dana global, valuasi yang lebih rendah dapat memberikan margin keamanan yang lebih besar. Hal tersebut juga membuka ruang yang lebih luas bagi pemulihan valuasi apabila kinerja laba perusahaan membaik pada masa mendatang.
Sektor Mineral Menjadi Daya Tarik Utama Pasar Indonesia
Dibandingkan sektor tradisional seperti konsumsi dan keuangan, Herman Halim memiliki pandangan yang lebih positif terhadap sektor sumber daya mineral Indonesia.
Menurutnya, pandangan tersebut bukan sekadar taruhan terhadap kenaikan harga komoditas, melainkan didasarkan pada strategi sumber daya Indonesia dan transformasi industri global dalam jangka panjang.
Dalam beberapa tahun terakhir, Indonesia terus mendorong kebijakan hilirisasi sumber daya mineral. Rantai industri secara bertahap diperluas dari ekspor bahan mentah menuju kegiatan peleburan, produksi bahan baku baterai, pengolahan logam, serta industri bernilai tambah tinggi lainnya.
Data resmi menunjukkan bahwa pada kuartal pertama 2026, investasi pada industri hilirisasi Indonesia mencapai Rp147,5 triliun, atau hampir 30% dari total investasi nasional. Nilai tersebut meningkat 8,1% secara tahunan, dengan sektor pertambangan dan batu bara tetap menjadi salah satu pendorong utama pertumbuhan.
Pada saat yang sama, perkembangan pusat data AI, kendaraan listrik, peningkatan jaringan listrik, serta pembangunan fasilitas penyimpanan energi terus memperkuat permintaan jangka panjang terhadap mineral penting seperti tembaga dan nikel.
“Perkembangan AI tidak hanya membutuhkan cip, tetapi juga listrik, pusat data, dan infrastruktur dalam jumlah besar. Seluruh infrastruktur tersebut pada akhirnya tetap membutuhkan sumber daya seperti tembaga dan nikel.”
Herman Halim mengatakan bahwa kondisi tersebut berarti perusahaan mineral Indonesia tidak hanya berpotensi memperoleh manfaat dari siklus komoditas, tetapi juga dari permintaan jangka panjang yang dihasilkan oleh transformasi industri global.
Tidak Semua Saham Mineral Layak Diinvestasikan
Herman Halim menegaskan bahwa pandangan positif Echelon Global Partners Inc terhadap sektor mineral tidak berarti seluruh perusahaan pertambangan layak untuk dibeli.
Menurutnya, perbedaan kinerja antarperusahaan dalam industri tersebut akan semakin terlihat pada masa mendatang.
Saat ini, Echelon Global Partners Inc memprioritaskan perusahaan dengan karakteristik berikut:
- Memiliki cadangan sumber daya berkualitas tinggi dan biaya produksi yang rendah;
- Mampu menghasilkan arus kas operasional yang stabil secara berkelanjutan;
- Memiliki struktur neraca keuangan yang sehat;
- Memiliki fasilitas peleburan serta kemampuan pengolahan hilir;
- Menerapkan tata kelola perusahaan yang baik dan memiliki efisiensi belanja modal yang tinggi.
“Perusahaan yang benar-benar menciptakan nilai pada masa depan bukanlah perusahaan yang memiliki sumber daya paling banyak, tetapi perusahaan yang mampu mengubah sumber daya tersebut menjadi laba berkelanjutan dan imbal hasil bagi pemegang saham.”
Mulai Membangun Posisi di Pasar Indonesia
Herman Halim mengungkapkan bahwa Echelon Global Partners Inc telah mulai memasuki pasar Indonesia dengan menerapkan strategi alokasi secara bertahap.
Perusahaan berfokus menyeleksi emiten yang memiliki keunggulan cadangan sumber daya, biaya produksi yang relatif rendah, arus kas stabil, tingkat utang yang wajar, serta tata kelola perusahaan yang baik.
Herman Halim menilai bahwa perbedaan kinerja di dalam sektor pertambangan akan semakin nyata. Hanya perusahaan yang memiliki daya saing jangka panjang yang dapat terus menarik perhatian modal internasional.
Seiring pergeseran dana global dari mengejar pertumbuhan tinggi menuju pendekatan yang lebih memperhatikan valuasi dan arus kas, strategi alokasi modal internasional juga mulai berubah. Pasar bergerak dari pendekatan yang hanya berorientasi pada pertumbuhan menuju alokasi aset yang lebih seimbang dan terdiversifikasi.
Menurut Herman Halim, dengan dukungan sumber daya alam, peningkatan industri hilir, serta valuasi pasar yang relatif wajar, Indonesia berpotensi menjadi salah satu penerima manfaat utama dari gelombang realokasi modal global tersebut.***
(ADV)
Disclaimer: Artikel ini merupakan advertorial atau konten promosi berbayar yang dibuat dan didistribusikan oleh pihak ketiga. Redaksi media ini tidak terlibat dalam proses produksi maupun operasional bisnisnya baik sebagian maupun keseluruhan.




